Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Sejarah

Siapakah Lalu Ismail Dea Malela?

Lalu Ismail Dea Malela adalah seorang pejuang dan tokoh ulama kelahiran Gowa Makassar. Kiprah perjuangan dan dakwah beliau bermula dari kedatangannya ke Tanah Sumbawa pada usia yang masih muda, ketika itu beliau berusia sekitar 17 atau 18 tahun. Beliau datang bersama ayahnya Lalu Abdul Kadir Jaelani (Dea Koasa) dari Makassar ke Sumbawa dengan memakai sampan kayu dan mendarat di Labu Punti Sumbawa. Kedatangan beliau bersama sang ayah ke Tanah Sumbawa adalah dalam rangka mencari jejak sang paman yang bernama Lalu Aga Dea Tuan dengan tujuan mengajaknya untuk berjuang melawan penjajahan saat itu. Lalu Aga Dea Tuan adalah seorang ulama besar Tanah Sumbawa dan bertempat tinggal di sebuah dusun kecil bernama Pemangong. Di Pemangong lah kemudian Lalu Ismail bersama sang ayah tinggal dan berdakwah dalam waktu yang tidak lama sekitar satu sampai dua tahun. Setelah itu beliau berangkat ke Tanah Jawa tepatnya di Batavia, disana beliau bersama ayahnya berdakwah dalam rangka melawan penjajahan bersa...

Menelusuri Qur’an Kuno Sumbawa

Halaman iluminasi awal mushaf, disalin oleh Muhammad bin Abdullah al-Jawi al-Bugisi, 1785. Untuk menuju Pulau Sumbawa, dari Jakarta, tidak ada penerbangan langsung. Pesawat mendarat di Mataram, dan perjalanan selanjutnya menggunakan angkutan travel, berupa minibus dengan 11 penumpang. Mobil yang saya tumpangi merapat di pelabuhan menuju Sumbawa tepat waktu, beberapa saat sebelum pintu feri ditutup. Langit masih menyisakan biru, sebelum pelan-pelan meredup jadi kemerahan. Para penumpang travel semua turun dari mobil, menyebar entah ke mana. Saya sempat meminta tolong kepada supir bahwa nanti saya dicarikan hotel di dekat “Istana Tua” – suatu istilah yang baru saya tahu tadi ketika mencari tiket travel. Istana Tua adalah sebutan untuk bekas istana kerajaan Sumbawa. Di feri, saya memilih tempat di tingkat atas, di bagian depan, agar bisa melihat pemandangan dengan leluasa. Saya kira perjalanan menyeberang ke Pulau Sumbawa hanya sebentar saja. Rupanya memakan waktu cukup lama, dua jam, hin...

Syekh Ibrahim Al-Sumbawi, Ulama Sumbawa Maestro Kaligrafi Mekkah

Halaman akhir dari sebuah manuskrip salinan (al-nuskhakh al-makhtuthah al-mansukhah) kitab "Maulid Syaraf al-Anam" buah tangan seorang Ulama Nusantara asal Sumbawa yang juga maestro kaligrafi dunia Islam yang hidup dan berkarir di Makkah pada abad ke 19 M, yaituIbrahim al-Khulushi ibn Wudd al-Jawi al-Sumbawi (diperkirakan wafat pada tahun 1860 M). Manuskrip "Maulid Syaraf al-Anam" salinan SyaikhIbrahim al-Khalushi al-Sumbawi al-Jawi tersebut kini tersimpan di Museum Seni Islam Malaysia (Islamic Art Museum Seni Malaysia), Kuala Lumpur. Seorang kurator naskah-naskah Melayu-Nusantara dari British Library, Annabel Gallop, pernah memberikan catatan singkat tentang keberadaan manuskrip ini. Teks "Manuskrip Syaraf al-Anam" disalin oleh Syaikh Ibrahim al-khulusi al-Sumbawi dengan menggunakan aksara Arab bercorak tsulutsi yang indah, dengan dihiasi berbagai macam hiasan, ornament, dan ilmuninasi di setiap halamannya, sementara di bawah setiap kata dati teks tersebu...

Meletusnya Tambora Karena Kematian Orang Arab

Beberapa naskah tradisional menyebutkan Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus lantaran Abdul Gafur, raja kerajaan Tambora, melakukan kelalaian. Dia memerintahkan pembunuhan seorang warga keturunan Arab dengan alasan telah menghina kerajaan. Dalam Syair Kerajaan Bima karya Khatib Lukman, sebagaimana termuat dalam Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah karya Henri Chambert-Loir, orang yang dibunuh itu bernama Haji Mustafa. Syair mengisahkan tentang Haji Mustafa yang segala permintaannya selalu dikabulkan Allah karena dirinya pernah mengunjungi Baitullah. Penduduk setempat meyakininya sebagai orang keramat. Cerita musabab letusan Tambora pun hadir dalam Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora karya Roorda van Eysinga, terbitan 1841, yang disusun berdasarkan kisah perjalanan C.G.C Reinwardt dan H. Zollinger. Keduanya mendapatkan gambaran tentang bencana Tambora dari Ismail, Raja Bima 1819-1854. Menurut cerita ini, seorang Arab dari Bengkulu bernama Said Idrus singgah di Keraj...

Sedikit Tentang Sejarah Masuknya Islam di Sumbawa

(Nginring Kamutar) foto: jelajah sumbawa Sejak tahun 1674 sampai dengan tahun 1958 (284 tahun) Raja beragama Islam yang pernah memerintah di kerajaan Sumbawa tercatat sebanyak 17 raja. Sebelum itu, Sumbawa dibawah kekuasaan kerajaan Hindu dari Dinasti“Dewa Awan Kuning”. Waktu itu dipimpin seorang raja dengan sebutan Dewa Maja Paruwa yang merupakan raja terakhir dari Dinasti tersebut. Dinasti ini berakhir pada tahun 1673 saat kerajaan Gowa Sulawesi Selatan berhasil menaklukan kerajaan Sumbawa. Berkaitan dengan penaklukan itu, Dewa Maja Paruwa atas nama kerajaan Sumbawa telah menyepakati perjanjian damai yang diajukan raja Gowa. Salah satu syarat dalam perjanjian itu adalah kerajaan Sumbawa bersedia memgang teguh dan menjalankan Syariat Islam dalam pemerintahannya. Pada dasarnya, penaklukkan bertujuan untuk mengajak raja Sumbawa memeluk agama Islam dan ingin melihat Islam menjadi agama resmi kerajaan Sumbawa. Setelah penaklukkan raja Gowa berhasil, selanjutnya kerajaan Sumbaw...

Tiga Orang Dari Pulau Sumbawa yang Ditakuti VOC

gambar penaklukan Banten 1682 oleh VOC. Oorlog in Bantam in t iaar 1682 goresan Jan Luyken 1689 (koleksi Amsterdam Museum). Saat perusahaan dagang asal Belanda, VOC (Vereenigde Oostindinsche Compagnie) mulai melirik Pulau Sumbawa awal abad ke-17, berbagai aktifitas perdagangan dan kontrak terus berlangsung dengan Kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa. Kuda, beras, kain, lilin dan kayu sopang menjadi andalan komoditas perdagangan di Pulau Sumbawa. VOC yang awalnya hanya datang untuk melakukan perdagangan lambat laun mulai mencampuri segala urusan pada kerajaan-kerajaan setempat. Pada Pulau Sumbawa, awalnya pihak VOC menjalankan politik etis dalam perdagangan dan juga perjanjian bantuan militer dan persenjataan untuk bersekutu melawan kerajaan di pulau lain. Terlebih lagi setelah dua kerajaan besar telah ditaklukkan seperti Kesultanan Banten dikuasai tahun 1682 dan Kerajaan Gowa jatuh pada tahun 1669 di tangan VOC dibawah pimpinan Cornelius Spelman, otomatis kerajaan di Pulau Sumbawa sebaga...

Gunung Tambora dan Penemuan Sepeda

Gunung Tambroa Meletus Pada 1816 Letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa 200 tahun lalu adalah yang terdahsyat sepanjang masa yang tercatat pada era modern. Letusan hebat itu mengakibatkan bencana ekologi di Eropa. Epidemi, kelaparan, kematian massal. Itulah dampak letusan Gunung Tambora 200 tahun lalu di Eropa. Letusan hebat itu pada tahun berikutnya mengakibatkan bencana ekologi di benua Eropa. Tahun 1816, bencana ekologi global kemudian dicatat sejarah sebagai Tahun Tanpa Musim Panas. Di Eropa dan Amerika Utara, cuaca kacau. Hujan turun terus menerus, suhu membeku terjadi di bulan Juni dan Juli, saat-saat musim panas seharusnya tiba. Berbagai daerah mengalami gagal panen, yang kemudian mengakibatkan bencana kelaparan besar-besaran. Di Jerman, menurut catatan sejarah, antara bulan Mei dan September 1816 hanya ada sekitar 20 hari tanpa hujan. Setelah itu datang musim dingin panjang. Penduduk harus makan kulit pepohonan untuk bertahan hidup. Ketika itu, belum ada yang menyadari bahwa b...

Mengenal Keris Kesultanan Sumbawa dan Bima

Contoh Keris DI Jawa keris disebut juga Dhuwung atau Curiga; di Minangkabau disebut Kerieh; di Lampung disebut Terapang; atau Punduk; di Sulawesi disebut Sale atau Kreh; di Bali disebut Kedutan; di Nusa Tenggara Barat disebut Keris (Lombok) dan Sampiri (Bima). Sedangkan di luar Indonesia, seperti di Filipina keris dinamakan Sundang, dalam bahasa Inggris disebut Creese, yaitu serapan dari keris (bahasa Indonesia). Kata keris pertamakali ditemukan pada Prasasti Karang Tengah yang terbuat dari perunggu dari Karang Tengah, Magelang yang berangka tahun 748 Caka (824 Masehi), serta Prasasti Poh dari Jawa Tengah yang berangka tahun 829 Caka (907 masehi). Pada Masa Majapahit (abad XIV) keris telah mencapai masa puncaknya, kemudian menyebar ke wilayah kekuasaannya antara lain: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, Lombok, Sumbawa (Dompu, Bima, Taliwang), termasuk juga Malaysia, Brunei, Filipina, Kamboja, dan Thailand. Gaya keris Sumbawa baik dari suku bangsa Mbojo (Bima dan Dompu) maupu...

Mengenal Istana Bala Puti, Kepingan Sejarah Sumbawa yang Terbakar

Istana Bala Puti Sumbawa yang Terbakar Baru-baru ini, warga Sumbawa Besar, NTB, dikejutkan dengan kebakaran hebat yang melanda Bala Puti, salah satu istana peninggalan Sultan Sumbawa, Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III. Kebakaran yang diduga karena arus pendek itu terjadi Selasa pagi. Meski kebakaran ini tidak menimbulkan korban jiwa, namun masyarakat Sumbawa begitu terpukul. Mereka merasa sangat kehilangan sebab Istana Puti merupakan satu serpihan sejarah yang tak ternilai harganya. Ia telah berdiri kokoh di jantung kota Sumbawa selama bertahun-tahun lamanya. Jika di India terdapat Taj Mahal yang dibangun oleh kekaisaran Mughal di bawah pemerintahan Kaisar Shah Jahan sebagai musoleum untuk mengenang istri tercintanya, Ratu Mumtaz Mahal, maka dalam versi berbeda di Sumbawa ada Istana Bala Puti yang melambangkan rasa cinta Sultan Sumbawa untuk permaisuri dan rakyatnya. Istana Bala Puti dibangun tahun 1932-1934 pada pemerintahan Sultan Sumbawa ke-17 Dari Dinasti Dewa Dalam Bawa yaitu Su...

Pertempuran Sengit Ki Pasung Grigis Dengan Raja Sumbawa

Ilustrasi Ki Pasung Grigis adalah putra dari Sri Empu Indra Cakru yang ber-pasraman di Puncak Bukit Gamongan (Lempuyang) dan menjadi seorang patih mangkubumi yang gagah perkasa di Kerajaan Bedahulu Bali saat Sri Tapolung (Astasura Ratna Bumi Banten) menjabat sebagai raja. Setelah menjadi seorang patih mangkubumi, Ki Pasung Gerigis akhirnya tinggal di desa Tengkulak dekat istana Bedahulu di mana raja Astasura bersemayam dan sebagai pembantunya diangkatlah Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna yang tinggal di Desa Belahbatuh. Ki Pasung Grigis yang juga disebutkan merupakan cucu dari Raja Masula Masuli dalam sejarah Dalem Gandalangu diceritakan, setelah pemerintahan Kebo Parud, pemerintahan di Bali kembali dipegang oleh keturunan dari raja-raja Bali kuno pada masa sebelumnya, yaitu Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten yang berkuasa di Bedahulu, yang masih keturunan dari raja Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lencana. Dengan demikian, Ki Pasung Grigis dan Sri Asta Sura Bumi Banten masih memiliki hubungan darah...

Sejarah Hubungan Kesultanan Sumbawa Dengan Kesultanan Banjar

Sejarah Hubungan Kesultanan Sumbawa Dengan Kesultanan Banjar (foto:Google) Sejak masa kerajaan dahulu atau sekitar abad ke-17, penduduk yang mendiami suatu daerah telah berbaur dengan daerah lain. Bugis, Makassar, Bali, Lombok dan sebagainya. Oleh karena itu tidak asing bagi suatu daerah termasuk di Sumbawa, kita telah mengenal berbagai suku yang ada di dalamnya. Termasuk di antarnaya Banjar. Tapi apakah suku ini memiliki hubungan dengan suku Sumbawa? tentu membutuhkan penalaran sejarah untuk mengungkapnya. Berikut beberapa catatan kecil tentang hubungan kesultanan Sumbawa dengan kesultanan Banjar. Periode Pertama Menurut hikayat Banjar dan Kotawaringin, pada masa pemerintahan sultan Banjar, sultan Rakyatullah (1660-1663) sempat menjalin hubungan bilateral dengan kerajaan Selaparang melalui ikatan perkawinan Raden Subangsa (Raden Marabut) bin pangeran Martasinga keturunan sultan Hidayatullah I bin sultan Rahmatullah yang menikah dengan Mas Surabaya puteri Selaparang. Hasil perkawinan t...

Jejak Peradaban Sumbawa di Ai Renung

Jejak Sejarah di Air Renung, Situs Tersebut Telah Dilindungi Undang-Undang Banyak cerita masa lalu yang belum terungkap, karena keterbatas informasi dan jejak-jeka peninggalan sejarah yang susah sekali didapatkan. Beberapa situs sejarah disumbawa seperti Istana Dalam Loka, Bala Kuning adalah yang pamiliar dimata masyarakat karena utuhnya bangunan tersebut hingga sekarang. Cerita masa lalu bisa kita telusuri dari benda-benda peninggalan yang hingga kini masih ada. Situs Ai Renung di Sumbawa Besar, Pulau Sumbawa, NTB menyajikan cerita masa lalu itu melalui deretan sarkofagus. Situs Ai Renung adalah situs pertama yang ditemukan di Kabupaten Sumbawa. Adalah Dinullah Rayes (Kabid Kebudayaan Kabupaten Sumbawa) dan Drs. Made Purusa (Balai Arkeologi Denpasar) yang berhasil menemukannya melalui penelitian pada tahun 1971. Pada penelitian pertama mereka hanya menemukan 3 buah sarkofagus atau kubur batu. Sedangkan pada penelitian selanjutnya ditemukan jenis yang sama hingga akhirnya kini terkump...

Mengungkap Kebenaran Sejarah Kerajaan Tangko di Empang

  Makam Aisyah, Putri dari Raja Kerajaan Tangko Sumber Foto: Yin Ude (Corong Bulaeng) Berdasarkan berbagai referensi sejarah, pada tahun 1357 Kerajaan Majapahit melakukan ekspedisi penaklukan ke Pulau Sumbawa, dengan pimpinan Mpu Nala. Dalam ekpedisi penaklukan ini telah berhasil dikuasai beberapa kerajaan di bagian barat dan timur Pulau Sumbawa, yakni Dompo (Dompu), Sapi (Sape), Gunung Api (Tambora), Taliwung (Taliwang), Seran (Seteluk), Hutan Kadali (Utan) dan Kerajaan Tangko (Empang). Dengan ditaklukkannya kerajaan- kerajaan ini maka agama Hindu menjadi agama di kerajaan yang ditaklukkan tersebut. Masih berdasarkan referensi sejarah Kerajaan Tangko Empang berada di wilayah Desa Ongko sekarang, dan dipimpin oleh seorang raja dengan gelar Batara. Ada beberapa sumber di Empang dan Tarano yang menyebutkan lokasinya bernama hutan Ai Pat, di kawasan pegunungan antara Desa Ongko- Banda (Kecamatan Tarano) dan Desa Mata (Kecamatan Tarano). Namun tidak ada bukti sejarah yang menjamin k...

Mengenal Panglima Mayu Lebih Dekat, Panglima Perang Angkatan Laut Kerajaan Sumbawa

Banyak kisah yang menjadi catatan para pelaku sejarah di Kabupaten Sumbawa khususnya tentang gerak kiprah pembantu-pembantu Raja dalam mengawal daerah nya menjadi wilayah yang disegani. Haji M. Zain Anwar ( alm ) misalnya, adalah salah seorang pelaku sejarah yang memiliki sejumlah catatan tentang Sumbawa antara lain bagaimana hebatnya bala tentara kerajaan Sumbawa ketika melawan bajak laut yang selalu mengganggu dan meresahkan. Konon dahulunya perairan Sumbawa banyak dikuasai oleh bajak laut yang berlindung di Teluk Saleh bahkan konon pula mereka dilindungi oleh Raja Kempong Dompu. Banyak pedagang yang berlayar ke Sumbawa dirompak ditengah laut baik itu yang datang dari Sulawesi, Kalimantan dan sebagainya. Mereka lalu mengadu kepada Sultan Sumbawa agar bagaimana para bajak laut itu bisa dilumpuhkan. Tersebutlah seorang pelaut ulung dari Pulau Bungin yang memiliki kedekatan pribadi dengan Sultan dan keluarganya. Ia dijuluki Panglima Mayu karena ia adalah Panglima Perang Tentara Laut Ker...

Menengok Keberadaan Suku Cek Bocek Sumbawa

Berikut adalah potret suku Cek Bocek yang mendiami wilayah Selatan Pulau Sumbawa Suku Cek Bocek atau suku Cek Bocek Selesek Reen Sury, juga disebut sebagai suku Berco, adalah salah satu suku yang terdapat di pulau Sumbawa provinsi Nusa Tenggara Barat. Suku Cek Bocek merupakan penduduk asli pulau Sumbawa, yang mendiami bagian selatan pulau Sumbawa. Suatu hal yang aneh di pulau Sumbawa, adalah pemerintah daerah Sumbawa sendiri tidak mengakui keberadaan suku Cek Bocek. Dikatakan bahwa suku Cek Bocek itu tidak ada, alias keberadaan suku Cek Bocek ini tidak diakui oleh pemerintah daerah Sumbawa. Bahkan dikatakan bahwa suku Cek Bocek ini bukanlah suku asli pulau Sumbawa. Padahal suku Cek Bocek merupakan penduduk asli dan suku tua yang mendiami pulau Sumbawa bagian selatan, tepatnya merupakan penduduk asli kawasan hutan Dodo di wilayah Kecamatan Ropang. Mereka mengatakan bahwa daerah Dodo, pada masa dahulu adalah tempat pemukiman suku Cek Bocek, yang ditandai dengan adanya beberapa kuburan l...

Sepintas Mengenai Sejarah dan Asal-Usul Suku Samawa

  Nampak Jelas Keseharian Suku Sumbawa (Sumber Foto: Adventours Sumbawa) Suku Sumbawa atau Tau Samawa, adalah suku yang terdapat di bagian barat pulau Sumbawa di provinsi Nusa Tenggara Barat Indonesia. Populasi suku Sumbawa adalah sebesar 500.000 orang. Suku Sumbawa tersebar di dua kabupaten, yaitu kabupaten Sumbawa dan kabupaten Sumbawa Barat yang meliputi kecamatan Empang di ujung timur hingga kecamatan Taliwang dan Sekongkang yang berada di ujung barat dan selatan pulau, termasuk 38 pulau kecil di sekitarnya. Suku Sumbawa sendiri, selama beberapa abad ini mengalami percampuran dengan etnis pendatang, seperti etnis dari jawa, sumatra, sulawesi, kalimantan dan cina serta arab. Suku Sumbawa yang telah bercampur dengan etnis lain ini, biasanya bermukim di dataran rendah dan daerah-daerah pesisir. Sedangkan suku Sumbawa yang masih asli menempati dataran tinggi pegunungan seperti Tepal, Dodo dan Labangkar. Suku Sumbawa berbicara dalam bahasa Sumbawa. Bahasa Sumbawa menjadi bahasa pers...